Friday, October 19, 2018

MAKALAH PERNIKAHAN WANITA HAMIL

0 comments

PERNIKAHAN WANITA HAMIL




KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji dan syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT karena limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Perkawinan Wanita Hamil”, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik sesuai dengan waktu yang di tentukan.
Semoga makalah ii dapat bermanfaat bagi kita semua,makalah ini dibuat denga sedemikian rupa agar kita bisa dengan mudah mempelajari dengan mudah dan memahami pelajaran yang ada didalamnya, dan memberi kemudahan bagi kita dalam memahami “Pendapat Para Ulama Mengenai Kedudukan Wanita Hamil, dan Ketentuan KHI Terkait Perkawinan Wanita Hamil”. Dan kami juga menyadari , bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang berguna dan bersifat membangun bagi pembuatan dan penyempurnaan selanjutnya sangat dibutuhkan penulis. Selain it ucapan terimakasih juga penulis haturkan kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung dalam pembuatan makalah ini.












BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Perkawinan sebagai bentuk sakral suami istri dalam hidup suatu rumah tangga yang menciptakan kehidupan yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Selain itu membina sebuah mahligai rumah tangga atau hidup berkeluarga merupakan perintah agama bagi setiap muslim dan muslimah. Kehidupan dan peradapan manusia tidak akan berlanjut tanpa adanya kesenambungan perkawinan dari setiap generasi manusia. Karena iu rasulullah Saw menganjurkan kepada umatnya telah mampu untuk menikah:
perkawinan adalah sunnahku, siapa saja yang benci terhadap sunnahkau, maka mereka bukan termasuk umatku” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perkawinan telah diatur secara jelas oleh ketentuan-ketentuan hukum Islam yang digali dari sumber-sumbernya baik dari al-quran dan as-sunnah dan hasil ijtihad para ulama. Bagi seorang gadis tentu tidak akan hamil tanpa didahului perkawinan dengan seorang laki-laki. Namun yang menjadi persoalan adalah seorang wanita hamil yang terjadi diluar perkawinan yang sah. Ini bisa dikatakan sebagai perzinaan yang telah jelas keharamannya. Akibatnya, dengan berbagai pertimbangan, para pihak mencoba untuk menutup-nutupinya, dengan melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya, dan laki-laki tersebut yang lari dari bertanggung jawag, maka dicari laki-laki lain yang bersedia nikah dengan perempuan ini.
Para ulama berbeda pendapat tentang perkawinan yang terjadi terhadap wanita yang sedang hamil akibat zina. Dan juga status anak dalam perkawinan. Tentu yang menjadi ppertanyaaan tentang hal ini menyangkut kebolehan atau keharaman terjadinya perkawinan terhadap wanita yang hamil diluar nikah menurut syari’at islam.
Maka berangkat dari persoalan ini, maka pemakalah akan membahas tentang persoalan wanit.
B.       Rumusan Masalah
1.         Bagaimanakah status nasab anak yang diakibatkan oleh perkawinan wanita hamil ?
2.        Sejauh manakah pelaksanaan hukum islam di indonesia terhadap perkawinan wanita hamil ?











BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Perkawinan Wanita Hamil
Perkawinan merupakan aqad yang manghalalkan pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban serta bertolong-tolong antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang antara keduanya bukan muhrim.
Sedang menurut UU No 1 tahun 1974 perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.[1]
Selain itu, perkawinan juga mendirikan suatu keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Di dalam perkawinan, adanya saling menjaga dan memelihara satu sama lain untuk terjaganya keutuhan keluarga dari hal-hal yang membawa kemudaharatan dan menghindarkan dari api neraka.
Perkawinan wanita hamil adalah seorang wanita yang hamil sebelum melangsungkan akad nikah, kemudian dinikahi oleh pria yang menghamilinya.  Istilah perkawinan wanita hamil adalah perkawinan seorang wanita yang sedang hamil dengan laki-laki sedangkan dia tidak sedang dalam status nikah atau masa iddah karena perkawinan yang sah dengan laki-laki yang mengakibatkan kehamilannya. Oleh karena itu, masalah kawin dengan perempuan yang hamil diperlukan ketelitian dan perhatian yang bijaksana terutama oleh pegawai pencatat nikah. Hal itu, dimaksudkan adanya fenomena sosial mengenai kurangnya kesadaran masyarakat muslim mengenai kaidah-kaidah moral, agama, dan etika sehingga tanpa ketelitian terhadap perkawinan wanita hamil memungkinkan seorang pria yang bukan menghamilinya tetapi ia menikahinya.[2]Wanita hamil secara tekstual dapat dipahami dua makna, pertama, wanita hamil oleh akibat suami yang sah, kedua, wanita hamil dengan akibat zina.
Perkawinan terhadap wanita hamil, jika dikaitkan dengan wanita yang hamil dalam aqad yang sah atau ditalak oleh suaminya, maka tidak boleh dinikahi hingga sampai melahirkan anak yang dikandungnya, sesuai dengan firman Allah QS Ath-Thalaq ayat 4:
وَٱلَّٰٓـِٔي يَئِسۡنَ مِنَ ٱلۡمَحِيضِ مِن نِّسَآئِكُمۡ إِنِ ٱرۡتَبۡتُمۡ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَٰثَةُ أَشۡهُرٖ وَٱلَّٰٓـِٔي لَمۡ يَحِضۡنَۚ وَأُوْلَٰتُ ٱلۡأَحۡمَالِ أَجَلُهُنَّ أَن يَضَعۡنَ حَمۡلَهُنَّۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤  
Artinya: Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Namun, jika wanita tersebut hamil dalam keadaan talak mati, maka jumhur ulama berpendapat mengambil iddah terpanjang, sehingga setelah wanita lewat dari masa iddahnya baru dibolehkan pernikahan.

B.       Pendapat para Ulama Mengenai Kedudukan Perkawinan Wanita Hamil
Hukum kawin dengan wanita yang hamil diluar nikah, para ulama berbeda pendapat sebagai berikut:
1.      Ulama mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) berpendapat bahwa perkawinan keduanya sah dan boleh bercampur sebagai suami istri, dengan ketentuan, bila si pria itu menghamilinya dan kemudian baru ia mengawininya.
2.      Ibnu Hazm (Zahiriyah)berpendapat bahwa keduanya boleh (sah) dikawinkan dan boleh pula bercampur, dengan ketentuan, bila telah bertaubat dan menjalani hukuman dera (cambuk ), karena keduanya telah berzina. Pendapat ini berdasarkan hukum yang telah pernah diterapkan oleh sahabat Nabi, antara lain:[3]
a.       Ketika jabir bin Abdillah ditanya tentang kebolehan mengawinkan orang yang berzina, beliau berkata”boleh mengawinkan, asal keduanya telah bertaubat dan memperbaiki sifat-sifatnya”
b.      Seorang laki-laki tua mengatakan keberatannya kepada khalifah Abu Bakar dan berkata: Ya Amirul Mukminin, putriku telah dicampuri oleh tamuku, dan aku inginkan agar keduanya dikawinkan. Ketika itu khalifah  memerintahkan kepada sahabat lain untuk melakukan hukuman dera (cambuk), kemudian dikawinkannya.
Selanjutnya mengenai pria yang kawin dengan wanita yang dihamili oleh orang lain, terjadi perbedaan pendapat para ulama:
1.      Imam Abu Yusuf mengatakan, keduanya tidak boleh dikawinkan. Sebab bila dikawinkan perkawinannya itu batal . Pendapat beliau berdasarkan firman Allah dalam QS An-Nur ayat 3.maksud ayat tersebut adalah, tidak pantas seorang pria yang beriman kawin dengan seorang wanita yang berzina. Demikian pula sebaliknya, wanita yang beriman tidak pantas kawin dengan pria yang berzina.
            Ibnu Qudamah sependapat dengan Imam Abu Yusuf dan menambahkan bahwa seorang pria tidak boleh mengawini wanita yang diketahuinya telah berbuat zina dengan orang lain, kecuali dengan dua syarat:
a.       Wanita tersebut telah melahirkan bila ia hamil. Jadi dalam keadaan hamil ia tidak boleh kawin.
b.      Wanita tersebut telah menjalani hukuman dera (cambuk), apakah ia hamil atau tidak.
2.      Imam Muhammad bin Al-Hasan Al-Syaibani mengatakan bahwa perkawinannya itu sah, tetapi haram baginya bercampur, selama bayi yang dikandungnya belum lahir.
3.      Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa perkawinan itu dipandang sah, karena tidak terikat dengan perkawinan orang lain (tidak ada masa ‘iddah). Wanita itu boleh juga dicampuri, karena tidak mungkin nasab (keturunan) bayi yang dikandung itu ternodai oleh sperma suaminya. Sedangkan bayi tersebut bukan keturunan orang yang mengawini ibunya itu (anak luar nikah).
Dengan demikian, status anak itu adalah sebagai anak zina, bila pria yang mengawini ibunya itu bukan pria yang menghamilinya.[4]
Namun bila pria yang mengawini ibunya itu, pria yang menghamilinya, maka terjadi perbedan pendapat:
1.      Bayi itu termasuk anak zina, bila ibunya dikawini setelah usia kandungannya berumur 4 bulan keatas. Bila kurang dari 4 bulan, maka bayi tersebut adalah anak suaminya yang sah.
2.      Bayi itu termasuk anak zina, karena anak itu adalah anak diluar nikah, walaupun dilihat dari segi bahasa, bahwa anak itu adalah anaknya, karena hasil dari sperma dan ovum bapak dari ibunya itu. [5]
Dengan mengambil analogi (qiyas) kepada wanita hamil yang diceraikan atau ditinggal mati, sebenarnya telah jelas bahwa masa tunggu (‘iddah) mereka, adalah sampai dia melahirkan. Dengan kata lain, pada masa wanita tersebut hamil, tidak dibenarkan untuk kawin dengan laki-laki lain. Dengan demikian alasan kehamilan, cukup konkret bahwa wanita hamil diluar nikah pun, tidak dibenarkan kawin dengan laki-laki yang tidak menghamilinya.  [6]          
        
C.      Dasar Hukum Perkawinan Wanita Hamil
1.         Dalam al-Quran adalah surah An-Nur (24) ayat 3 yang berbunyi:
ٱلزَّانِي لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوۡ مُشۡرِكَةٗ وَٱلزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَآ إِلَّا زَانٍ أَوۡ مُشۡرِكٞۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٣ 
Artinya: Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.

Ayat diatas menunjukkan bahwa kebolehan wanita hamil kawin dengan laki-laki yang menghamilinya merupakan pengecualian. Oleh karena itu, laki-laki yang menghamili itulah yang tepat menjadi suaminya. Selain itu, pengidentifikasian dengan laki-laki musyrik menunjukkan keharaman wanita yang hamil dimaksud menjadi syarat larangan terhadap laki-laki yang baik untuk mengawininya.[7]
Menurut salah satu riwayat sebab turunnya ayat 3 surah An-Nur (24) diatas adalah ‘Ata’, Ibn Abi Rabah, dan Qatadah menyebutkan bahwa ketika orang-orang Muhajirin tiba di Madinah, diantara mereka sebagian orang-orang fakir, tidak mempunyai harta dan mata pencarian. Sementara masyarakat di Madinah terdapat wanita-wanita zaniyah yang menyewakan diri mereka, mereka pada saat itu termasuk wanita yang subur. Setiap orang dari mereka terdapat tanda papan pengenal di depan rumahnya. Sebagai contoh si A disini menerima perzinaan. Hal ini dimaksud untuk mempermudah orang-orang yang ingin melakukan perzinaan sehingga laki-laki pezina dan orang-orang musyriksilih berganti mendatangi rumah mereka melakukan perzinaan. Oleh karena itu, orang-orang fakir dari kaum Muhajirin ada yang berpendapat untuk ingin mengawini pra wanita tersebut untuk mendapat kekayaan dari mereka. Kemudian kaum Muhajirin yang berpendapat demikian, memohon izin kepada Nabi Muhammad Saw. , maka turunlah surah An-Nur (24) ayat 3.
Berdasarkan sebab turunnya surah An-Nur ayat 3, dapat diketahui bahwa Allah mengharamkan laki-laki yang bukan menghamili mengawini wanita yang hamil karena zina. Hal itu untuk menjaga kehormatan laki-laki yang beriman. Selain itu untuk mengetahui status hukum anak yang lahir sebagai akibat perzinaan, yaitu hanya diakui oleh hukum islam mempunyai hubungan kekerabatan dengan ibu yang melahirkannya dan keluarga ibunya. Sedangkan ayahnya secara biologis (yang menyebabkan perempuan hamil) tidak diakui mempunyai hubungan kekerabatan.[8]
2.         Dalam Hadis
Ayat tersebut diperkuat oleh hadis Nabi:
اِنَّ رَجُلاً تَزَوَّجَ اِمْرَأةَ فَلَمَّا اَصَابَهَا وَ جَدَهَا حُبْلَى, فَرَ جَعَ ذَلِكَ اِلَى اَلنَبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا وَجَعَلَ لَهَا اَلصَّدَاقَ وَجَلَّدَهَا مِائَة
Artinya: Sesungguhnya seorang laki-laki mengawini seorang wanita, ketika ia mencampurinya ia mendapatkannya dalam keadaan hamil, lalu dia laporkan kepada Nabi SAW. Kemudian Nabi menceraikan keduanya dan wanita it diberi mas kawin, kemudian wanita itu di dera (dicambuk) sebanyak 100 kali.
  
3.         Ketentuan Kompilasi Hukum Islam Terkait Perkawinan Wanita Hamil
Dalam Bab VIII pasal 53 K ompilasi Hukum Islam mengatur tentang kawin hamil, sebagaimana diunkapkan dibawah ini:
1.      Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
2.      Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut dalam ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menuggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
3.      Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.
D.      Status Nasab Anak
Adapun anak zina adalah anak yang lahir diluar perkawinan yang sah, sedang perkawinan yang diakui Indonesia yaitu perkawinan yang dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya dan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam UU No.1/1974.
Para ulama sepakat bahwa anak zina tidak di nasabkan kepada ayahnya, tetapi dinasabkan kepada ibunya. Ini sesuai dengan pasal 100 KHI “ Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya”.
Imam syafi’i berpendapat paling cepat umur kehamilannya itu adalah enam bulan, apabila perkawinan telah lebih dari enam bulan, lalu anak lahir, maka anak tersebut mempunyai nasab kepada suaminya. Sebaliknya, apabila kurang dari enam bulan, maka nasab anak tersebut dihubungkan kepada ibunya.










BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa:
1.         Menurut pendapat imam mazhab, terdapat dua kelompok. Satu kelompok yaitu Hanafi dan Syafi’i membolehkan perkawinan wanita hamil. Kelompok kedua dari Malik dan Ahmad bin Hanbal yang melarang. Sedangkan menurut KHI bahwa wanita hamil dapat melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya.
2.         Tentang status nasab anak yang dilahirkan dalam perkawinan wanita hamil, para imam mazhab berbeda pendapat imam syafi’i berpendapat bahwa dinasabkan kepada laki-laki yang mengawini ibunya jika angka kehamilan diatas enam bulan, tetapi jika lama kehamilan dibawah enam bulan, nasab anak dihubungkan kepada ibunya.  
B.       Saran
Dengan mempelajari makalah ini, penulis menyarankan agar kita mampu mengambil pelajaran bahwa Allah mengharamkan seorang laki-laki yang bukan menghamili mengawini wanita yang hamil karena zina. Begitu juga sebaliknya, wanita beriman diharamkan kawin dengan laki-laki pezina.   











DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zainudin, Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika,  Cet I. 2006.
Ghozali, Abdul Rahman, Fiqih Munakahat, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet I. 2003.
 Rofiq, Ahmad, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2013.
Manan, Abdul, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006
Undag-Undang  No 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam



[1]Pasal 1UU No 1 Tahun 1974
[2] Zainudin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), h. 45
[3]Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Prenada Media Group, 2003), hlm. 124-125
[4] Loc, Cit , hal, 127
[5]Loc, Cit , hal, 127-128
[6]Ahmad Rafiq, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm. 51’

[7]Op, Cit, hlm, 46
[8]Op, Cit, hlm, 46 




fdbeb58802ebc86d8d02656bdba78daa3876df6222135e0861
Read more...

MAKALAH AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT

0 comments

MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT





Kata Pengantar

Alhamdulillahhirrabbil’alamin, puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga pada akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam kami ucapkan untuk Nabi Muhammad SAW semoga selalu tercurah untuk beliau. Amin
Terima kasih kepada seluruh pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, yang telah mencurahkan ide-ide dan pemikiran yang membangun. Tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah banyak sekali membimbing kami dalam penyelesaian makalah ini. Makalah ini membahas tentang Al-muhkam dan Al-mutasyabih.
Kami menyadari makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, hal itu karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan kami. Untuk itu, kami memintak kritik dan saran yang membangyn dari pembaca. Semoga malah ini bemanfaat bagi kita semua baik dalam pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Akhir kata kami ucapakan maaf kepada pembaca apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan.

Padang,16 november 2015



             Pemakalah





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih……………………………………..1

       B. Pembagian Ayat-Ayat Mutasyabih………………………………………..4
            1.Mutasyabih dari segi lafazh
            2. Mutasyabih dari segi maknanya
            3. Mutasyabihdari segi lafazh dan maknanya

             C.  Sikap Para Ulama terhadap Ayat-Ayat Muhkam dan Mutasyabih……….6
             
 D.  Hikmah adanya Ayat-Ayat Muhkam dan Mutasyabih…………………...10


BAB III PENUTUPAN

DAFTAR PUSTAKA






BABI
PENDAHULUAN 
A.      Latar Belakang
Ayat-ayat dalam yang terkandung dalam Al-quran adakalanya berbentuk lafazd, ungkapan, dan uslup yang berbeda tetapi artinya tetap satu, sudah jelas maksudnya sehingga  tidak menimbulkan kekeliruan bagi orang Yang membacanya. Disamping ayat yang sudah jelas tersebut, ada lagi ayat-ayat Al-quran yang bersifat umum dan samar-samar yang menimbulkan keraguan bagi yang membacanya sehingga ayat yang seperti ini menimbulkan ijtihad bagi para mujtahid untuk dapat mengembalikan ke[ada makna yang jelas dan tegas.
Kelompok ayat pertama, yang telah jelas maksudnya itu disebut dengan muhkam, sedangkan kelompok ayat kedua yang masih samar-samar disebut dengan mutasyabih, kedua macam inilah yang akan menjadi pembahasan pada bagian ini.
Pada sisi lain Al-qathan menyatakan bahwa Al-quran seluruhnya muhkam dan mutasyabih. Pendapat ini karena memandang muhkam dan mutasyabih secara umum. Seluruh Al-quran adalah muhkam jika kata muhkam itu berarti kokoh, kuat dan membedakan antara yang hak dengan yang bathil, yang benar dan salah. Dan Al-quran itu mutsyabih jika kata itu berarti kesempurnaan dan kebaikan. Al-quran satu ayat dengan ayat yang lainnya saling menyempurnakan dan memperbaiki ajaran-ajaran yang salah yang selalu dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

B.       Rumusan Makalah
1.         Apa pengertian muhkam dan mutasyabih ?
2.         Bagaimana cara mengetahui muhkan dan mutasyabih ?
3.         Apa ciri spesifik muhkam dan mutasyabih ?
4.         Bagaiman klasifikasi ayat-ayat dan surat-surat Alquran ?
5.         Apa urgensi pengetahuan tentang muhkam dan mutasyabih ?
C.      Tujuan penulisan
1.         Untuk mengetahui pengertian muhkamah dan mutasyabih
2.         Untuk mengetahui cirri-ciri spesifik muhkamh dan mutasyabih
3.         Untuk mengetahui bagaiman klasifikasi ayat-ayat muhkamah dan mutasyabih
4.         Untuk mengetahui urgensi pengetahuan tentang muhkamah dan mutasyabih.











BAB II
PEMBAHASAN


    A. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih
Menurut bahasa, muhkamat berasal dari kata-kata احكم-يحكم-احكاما Mengandung arti kekokohan, kesempurnaan, keseksamaan dan pencegahan. Sedangkan musytasyabihat berasal dari kata تشابه-يتشابه-تشابـها yang berarti التما ثيل  kemiripan, keserupaan, kesamaan.[1]
Adapun tentang pengertian muhkam dan mutastabih secara istilah, para ulama mengemukakanpendapat yang bermacam-macam. Hal ini dikarenakan dimensi makna yang dikandung oleh kata muhkam dan mutasyabih itu cukup jelas dan beragam. Penjelasannya adalah seperti uraian berikut ini:
1.         Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gemblang baik melalui takwil (metafora) ataupun tidak. Sedangkan ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui oleh Allah SWT., seperti kedatangan hari kiamat, keluarnya Dajjal, dan huruf-huruf muqata’ah yang terdapat di awal surat-surat tertentu. Defenisi ini dikemukakan oleh kelompok ahlus sunnah.
2.         Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya jelas, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya.
3.         Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan sisi lain, sedangkan ayat-ayat mutasyabih mempunyai kemungkinan sisi arti banyak. Defenisi ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas.
4.         Ayat-ayat muhkam adalah yang maknanya dapat dipahami akal, seperti bilangan rakaat sholat, kekhusukan bulan Ramadhan untuk pelaksanaan puasa wajib, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam al-Mawardi.
5.         Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang dapat berdiri sendiri (dalam pemaknannya), sedangkan ayat-ayat mutasyabih bergantung pada ayat lain.
6.         Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya segera dapat diketahui tanpa pentakwilan, sesangkan ayat mutasyabih memerlukan pentakwilan untuk mengetahui maksudnya.
7.         Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang lafazh-lafazhnya tidak berulang-ulang, sedangkan ayat mutasyabih sebaliknya.
8.         Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang berbicara tentang kewajiban-kewajiban, ancaman, dan janji, sedangkan ayat muitasyabih berbicara tentang kisah-kisah dan perumpamaan-perumpamaan.
9.         Ibnu Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Ali bin Abi Thalib dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang menghapus (nasikh), berbicara tentang halal-haram, ketentuan-ketentuan (hudud), kewajiban-kewajiban, serta hal-hal yang harus diimani dan diamalkan. Adapun ayat mutaysabih adalah yang berkenaan dengan perumpamaan-perumpamaan (amtsal), sumpah (qasam), dan hal-hal yang harus diimani, tetapi tidak harus diamalkan.
10.     Abdullah bin Hamid mengluarkan sebuah riwayat dari adh-Dhahak bin al-Muzahim yang mengatakan bahwa ayat-ayat mukam adalah ayat-ayat yang menghapus (nasikh), sedangkan ayat-ayat mutaysabih yang dihapus (mansukh).
11.     Ibnu Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Muqathil bin Hayyan yang menyatakan bahwa ayat-ayat mutasyabih adalah huruf-huruf pembuka surat (fawathih as-suwar) seperti alif lam mim, alif lam ra, dan alif lam mim ra.
12.     Ibnu Abi Hatim menyatakan bahwa ‘Ikrimah, Qatadah bin Di’amah, dan lainnya menyatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang harus diimani dan diamalkan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang harus diimani saja dan tidak harus diamalkan.[2]
13.     As-suyuthi muhkam adalah sesuatu yang sudah jelas artinya, sedangkan muhtasyabih sebaliknya
14.     Imam Ar-Razi muhkam adalah ayat yang dalalahnya kuat baik maksud maupun lafaznya, sedangkan muhtasyabih adalah ayat yang dalalahnya lemah, masih bersifat mujmal, memerlukan takwil, dan sulit dipahami
15.     Manna’ Al Qaththan muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung tanpa memerlukan keterangan lain, sedangkan mustasyabih tidak seperti itu, ia memerlukan penjelasan dengan menunjuk kepada ayat lain.

Dari pendapat – pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa ayat muhkamat adalah ayat yang sudah jelas baik, lafaz maupun maksudnya sehingga tidak menimbulkan keraguan dan kekeliruan bagi orang yang yang memahaminya[3].  Yang termasuk kedalam kategori muhkam adalah nash(kata yang menunjukkan sesuatu yang dimaksud dengan terang dan tegas, dan memang untuk makna itu ia disebutkan) dan zhahir(makna lahir).
Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat- ayat yang kurang jelas atau samar-samar maknanya sehingga sulit mengetahui maksudnya secara pasti. Yang termaksuk dalam kategori mutasyabih adalah kata-kata yang bersifat mujmal (global), mu’awwal (harus ditakwil), musykil (ambigu), dan mubham(samar).[4]
  
         B. Pembagian ayat-ayat mutasyabih
1.      Mutasyabih dari segi lafazh
a.       Yang dikembalikan kepada lafazh yang sulit pemaknanannya, seperti الأبّ dan يزفون . Dan yang dilihat dari segi gandanya lafazh itu dalam pemakaian, seprti lafazh اليد dan العين .
b.      Lafazh yang dikembalikan kepada bilangan susuna kalimatnya, yang seperti ini ada tiga macam.
1)      Mutasyabih karena ringkasan kalimat, seperti firman Allah:
و ان خفتم ألا تقسطوا في اليتامى
Yang dimaksdu dengan اليتامى di sini adalah juga mencakup اليتيمات.
2)      Mutasyabih karena luasnya kalimat, seperti firman Allah:
ليس كمثله شىء niscaya akan lebih mudah dipahami jika diungkapkan dengan kalimatليس مثله شيىء  
3)      Mutasyabih karena susunan  kalimatnya, seperti firman Allah:
انزل على عبده الكتاب و لم يجعل له عوجا قيّما akan mudah dipahami bila diungkapkan dengan:
انزل على عبده الكتاب قيما يجعل له عوجا
2.      Mutasyabih dari segi maknanya
Mutasyabih ini adalah menyangkut sifat-sifat Allah, sifat hari kiamat, bagaimana dan kapan terjadinya. Semua sifat yang demikian
tidak dapat digambarkan secara konkret karena kejadiannya belum pernah dialami oleh siapapun.
3.      Mutasyabih dari segi lafazh dan maknanya
Mutasyabihat dari segi maknanya ini menurut as-suyuti ada lima macam, yaitu;
a)        Mutasyabihat dari segi kadarnya, seperti lafaz yang umum       dan khusus.
b)        Mutsyabihat dari segi cara, seperti perintah wajib dan sunnah
c)        Mutasyabihat dari segi waktu, seperti nasakh dan mansukh.
d)       Mutasyabihat dari segi tempat dan suasananya dimana ayat itu di turunkan.
e)        Mutasyabihat dari segi syarat-syarat, sehingga suatu amalan itu  tergantung dengan atau tidaknya syarat dibutuhkan, misalnya ibadah shalat dan nikah tidak dapat dilaksanakan jika tidak cukup syarat.[5]

      C.  Sikap Para Ulama terhadap ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih
Para ulama berbeda pendapat tentang ayat mutasyabih dapat diketahui oleh manusia atau hanya Allah saja yang mengetahuinya. Perbedaan pendapat bermuara pada cara menjelaskan struktur kalimat ayat berikut:
3 
Artinya :“….Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat,…“(Q.S.Ali-Imran:7)

 Ungkapan wa Al-rasikhuna vi Al-‘ilm di-athaf-kan pada lafaz Allah sementara lafaz yaquluna sebagai hal. Artinya bahwa ayat mutasyabih diketahui orang yang mendalam ilmunya. Ungkapan  wa Al-rasikhuna vi Al-‘ilm sebagai mubtada’, sedangkan lafaz yaquluna sebagai khabar. Artinya ayat mutasyabih hanya diketahui oleh Allah sedangkan orang yang mendalam ilmunya hanya mengimaninya.
          Sebagian besar sahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya, terutama kalangan Ahlussunnah, berpihak pada penjelasan gramatikal. Merupakan riwayat yang paling shahih dari Ibn Abbas.
          As-Suyuthi mengatakan bahwa pendapat ini diperkuat oleh riwayat berikut ini:
1.      Riwayat ‘Abd Ar-Razzaq dalam tafsirnya dan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya dari Ibn Abbas. Ketika membaca surat ali-Imran;7, Ibn ‘Abbas memperlihatkan bahwa huruf wawu  pada ungkapan wa ar-rasikhuna berfungsi sebagai isti’naf (tanda kalimat baru).
2.      Ibn Abu Daud, dalam Al-Mashahif mengeluarkan sebuah riwayat dari Al-A’masy. Menyebutkan bahwa diantara qiraah Ibn Mas’ud disebutkan:
“ Sesungguhnya penakwilan ayat-ayat mutasyabih bnayak milik Allah semata, sedangkan orang-orang yang mendalami ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat yang mutasyabih.”
3.      Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya mengeluarkan sebuah riwayat dari Aisyah yang mengtakan bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda ketika mengomentari surat Ali-Imran:7 sebagai berikut,
“ jika engkau menyaksikan orang-orang yang mengikuti ayat mutasyabih untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, orang itulah yang dicela Allah maka berhati-hatilah menghadap mereka.”
4.      Ath-Thabrani, dalam Al-Kabir mengeluarkan sebuah riwayat dari Abu Malik Al-Asyu’ari. Ia mendengar Rasulullah bersabda:
“Ada 3 hal yang aku khawatirkan dari umatku, yaitu pertama, menumpuk harta sehingga memunculkan sifat hasad dan menyebabkan terjadinya pembunuhan. Kedua, mencari takwil ayat mutasyabih, padahal hanya Allah-lah yang mengetahuinya…”
5.      Ibn Al-Hatim mengeluarkan riwayat dari Aisyah yang dimaksud dengan kedalaman ilmu pada surat Ali-imran:7 adalah mengimani ayat mutasyabih, bukan berusaha untuk mengetahuinya.
6.      Ad-Darimi dalam Musnad-nya, mengeluarkan sebuah riwayat dari Sulaiman bin Yassar mengatakan bahwa seorang pria bernama Shabigh tiba dimadinah. kemudian, ia bertyanya tentang takwil ayat mutasyabih. Ia diperintahkan menemui ‘Umar. Umar sedang memasang tangga kepohon kurma ketika orang itu menemuinya. “Siapakah engkau?” tanya ‘Umar.
 “ Saya adalah ‘Abdullah bin Shabigh.” ‘Umar memukul orang itu dengan beberapa kayu dari tangga sehingga kepala orang itu berdarah.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ‘Umar itu memukul dengan cambuk sehingga meninggalkan bekas pada punggungnya.
Ar-Raghib Al-Asfahani membagi ayat-ayat mutasyabih dari segi kemungkinan mengetahui maknanya pada 3 bagian :  
1. Bagian yang tidak ada jalan sama sekali untuk mengetahuinya, seperti saat terjadinya hari kiamat, keluar binatang dari bumi, dan sejenisnya. 
2. Bagian yang menyebabkan manusia dapat menemukan jalan untuk mengetahuinya, seperti kata-kata asing didalam Alquran
3. Bagian yang terletak diantara keduanya, yakni yang hanya dapat diketahui orang-orang yang mendalami ilmunya.
      Sikap para ulam terhadap ayat mutasyabih terbagi kedalam 2 kelompok :
1.      Madzhab salaf, yaitu para ulama ynag mempercayai dan mengimanai ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah sendiri (Tafwidhilallah). Ibn Ash-Shalah menjelaskan bahwa mazhab salaf ini dianut oleh generasi dan  para pemuka umat islam pertama. Kepada mazhab ini para imam dan pemuka hadist mengajak para pengikutnya. Tidak seorang pun para teolog dari kalanagan kami yang menolak mazhab ini.
2.      Mazhab Khalaf, yaitu para ulama yang berpendapat perlunya penakwilan ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah yang melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah. Umumnya berasal dari kalangan ulama muta’akhirin. Dalam Ar-Risalah An-Nizhamiyyah, ia menuturkan bahwa prinsip yang di pegang dalam beragama dalah mengikuti mazhab salaf sebab mereka memperoleh drajat dengan cara tidak menyinggung ayat-ayat mutashabih.[6]

D.      Hikmah Adanya Ayat-Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat
Para ulama menyebutkan beberapa hikmah ayat mutasyabihat, empat diantaranya disebutkan oleh As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Itqan, yaitu :
1.      Mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkapkan maksudnya, dengan akan menambah pahala.
2.      Seandainya Alquran semuanya muhkamat, niscaya hanya ada mazhab.
3.      Apabila Alquran mengandung ayat mutasyabihat, maka untuk memahaminya diperlukan cara penafsiran dan tarjih antara yang satu dan lainnya, hal ini memerlukan ilmu bahasa, gramatika, ma’ani, bayan, ushul fiqh dan lainnya.
4.      Alquran berisi dakwah kepada orang-orang tertentu dan umum.[7]










BAB I11
PENUTUP

KESIMPULAN
Ayat-ayat muhkam merupakan ayat yang mempunyai makna yang jelas, sehingga tidak perlu mencari maksud tertentu lainnya. Ayat ini dapat diketahui oleh semua orang dan tidak ada keraguan dalam mengamalkannya. Ayat-ayat muhkam merupakan ayat yang mempunyai tujuan yang terarah, walaupun masih ada penafsiran lagi, namun maknanya tidak ada keraguan lagi.
Ayat mutasyabuihat merupakan ayat yang masih mempunytai maksud dan makna yang dikeragui, dibutuhkan penakwilan dan sebetulnya hanya allah yang mengetahui maksudnya. Namun bagi orang yang menakwilkan hanya tidak ada kecenderungan kepada kesesatan, lebih baik maksud dari ayat mutasyabihat ditujukan kepada allah semata yang Maha Mengetahui








DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Abu, Ulumul Qur’an: Sebuah Pengantar, Pekanbaru, Amzah, 2012.
Anwar, Rosihon, Ulum Al-Quran, Bandung, CV Pustaka Setia, 2012
Tasman, Sutrrisno Hadi, Khazanah Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Padang, Hadin Publishing,
Zaini, Hasan & Radhiatul Hasnah, ‘Ulum Al-Qur’an, Batusangkar, STAIN Batusangkar Press, 2011








[1] Hasan Zaini dan Radhiatul Hasna, Ulum Al-Qur’an, (Batu sangkar: STAIN Batusangkar Press, 2010), h. 115
[2]  Sutrrisno Hadi Tasman, Khazanah Ilmu-Ilmu Al-Qur’an,(Padang;Hadin Publishing), h.123-125
[3]  Abu Anwar, op. Cit, h. 78
[4]  Sutrisno Hadi Tasman,ibid , h.125
[5] Abu Anwar, op. Cit, h.78-81
[6] Rosihon Anwar, ulum alquran, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012), h. 122-128
[7] Hasan Zaini dan Radhiatul Hasna, op.Cit, h.121-122
Read more...

Sponsor

 
Dosen Blogger © 2018